GRATIS!!
GRATIS
Lamat-lamat kudengar bunyi di kejauhan. Berulang-ulang, menggugah kesadaran. Aih, ternyata bunyi alarm pagi. Pagi kesekian ribu yang kujelang dalam alunan kokok ayam-ayam tetangga. Berisik, tapi menyenangkan. Menyenangkan karena berisik (loh?). Ga deng, maksudku, menyenangkan karena masih ada ayam yang suaranya bisa dengan gratis kudengar, tanpa harus kubeli atau kuberi makan tiap hari. Kan perlu uang tuh.
Oya, pernah dengar ungkapan, ‘uang menentukan segalanya’? bahwa ‘hidup perlu uang, uang perlu untuk hidup’? (kalo ga pernah setidaknya sekarang udah dengar lah ya).
Menurutmu, benarkah ungkapan itu?
Let’s see. Dimulai dari istilah ‘hidup’ itu sendiri. Bagaimana aku, kamu, ayam, dan pohon srikaya di halaman rumah dapat dikatakan ‘hidup’? Yap, semua makhluk itu hidup karena ada jiwa yang tersimpan dalam tubuhnya. Jiwa kita telah ada jauh sebelum raga khusus kita dicipta. Jiwa yang belum punya raga menunggu antrian seperti halnya antrian untuk menaiki kendaraan roller coaster untuk merasakan dunia. Apakah jiwa perlu membayar Tuhan untuk bisa menaiki raga itu? Apakah jiwa membayar malaikat supaya bisa menyerobot antrian dan memasuki dunia lebih cepat? Tidak tidak. Jiwa, diciptakan dengan gratis. Bisa menaiki raga dengan gratis. Diberi fitrahpun, tanpa memungut bayaran. Lalu dilahirkan, free of charge. Melahirkan? Gratis juga kok. Yang ga gratis tu jasa dukun beranaknya.
Eit eit, siapa bilang manusia diciptakan dengan gratis? Bukankah Tuhan meminta ‘bayaran’ berupa ibadah dalam waktu-waktu yang ditentukan? Amboi, mungkin ada yang tercetus pikiran seperti itu. Tak perlu malu mengakuinya, saya pun kadang berpikir begitu. Tapi kemudian kujawab sendiri, memangnya Tuhan bertambah kaya jika kita beribadah pada-Nya? Apakah Tuhan akan makin sengsara bila manusia tak menyembah-Nya? Takkan berkurang atau bertambah kuasa-Nya, peduli amat ada yang menyembah atau tidak. Sungguh, jika direnungkan, inti dari semua ibadah: sholat 5 waktu, nyanyian kudus, puja-puji pada dewa,etc adalah do’a. Harapan, permintaan manusia kepada Tuhan. Nah lho, Tuhan justru memerintahkan kita untuk meminta pada-Nya. Bandingkan bila kita meminta dokter untuk memeriksa kesehatan kita. Istilah imperialnya: General Check Up. Akan habis berapa ratus ribu rupiah? Tetapi saat kita meminta Tuhan menjaga kesehatan kita, berapa yang kita bayar? Gratis, kawan.
Lalu lalu, untuk hidup kan perlu sandang-pangan-papan tuh. Nah nah kalo yang ini, untuk bisa mendapatkannya memang identik dengan kebutuhan terhadap uang. Ga gratis bo. Tapi guys, uang hanya bisa membelinya. Yang membuat kita dapat melihat indahnya makanan berwarna-warni: mata. Yang membuat kita merasakan harumnya makanan: hidung. Yang mengantarkan enaknya rasa makanan: lidah. Yang membuat kamu merasakan nikmatnya membuang sisa makanan dari tubuh: anus (ups, ga niat jorok kok). Bayangkan bila makanan bertumpah ruah terhidang di hadapan kita, tapi kita ga punya mata,hidung, lidah, dan anus untuk menikmatinya. Mungkin kita bahkan ga akan menyadari ada makanan di sana! Terus, gimana cara kita mendapatkan mata, hidung, lidah, dan anus? Yap, lagi-lagi gratis. Ehm, itu baru tentang makanan, belum lagi pakaian, rumah, de el el, itu mah silakan dikembangkan sendiri yah.
Oke, yang di atas tadi baru kebutuhan primer. Kalo kebutuhan sekunder macam pendidikan, kesehatan, dan keamanan, bisakah gratis? Bisa-bisa aja. Di Indonesia, banyak kok beasiswa pendidikan, banyak zakat yang tidak dikorupsi, dan banyak juga tangan-tangan dermawan yang terulur untuk membantu. Tak perlu hanya berharap dari pemerintah, ntar kelamaan nunggu malah ngutuk-ngutuk sendiri. Atau kalo gengsi nerima bantuan orang lain tapi ingin gratis, didiklah diri sendiri dari lingkungan yang ada. Guru terbaik adalah pengalaman, bukan? Ga cuma pengalaman kita tapi juga beribu-ribu orang sebelum kita. Itu bisa didapatkan langsung dari obrolan-obrolan, atau lewat buku perpustakaan kota yang Insya Allah gratis. Lalu tentang kesehatan, tiru saja nabi Muhammad SAW, yang seumur hidupnya hanya pernah sakit dua kali (CMIIW). Kok bisa? Ada tips n triknya, tapi lum bisa saya sampaikan di sini, nanti kepanjangan artikelnya (padahal mah karena lupa aja, hehe). Kalo penasaran monggo search di mbah Google, insya Allah sudah banyak yang membahasnya.
Terus kalo kebutuhan tertier macam kebutuhan rekreasi? Aiih,, kita ini hidup di tempat rekreasi, kawan. Mau wisata rohani? Lihatlah (dan santuni) warga-warga sekitar yang belum dapat memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Mau wisata alam? Lihatlah langit setiap matahari terbit, tenggelam dan saat bulan bercahaya.. Lebih indah lagi kalo lagi di kampung, melihat kunang-kunang bersaing dengan bintang atau indahnya air yang terjun dari ketinggian sekian puluh meter. Sungguh, Tuhan telah menyediakan segalanya untuk kita. Gratis.
So so, menurutmu benarkah ungkapan ‘hidup perlu uang, uang perlu untuk hidup’?. Kalo menurutku,,Ya, uang memang perlu, tapi kita tetap bisa hidup, dengan atau tanpa uang. Hidup gratis! Asal bukan gratis-fikasi,,
Kulirik jam. Aih sudah pukul 07.30. Saatnya bersiap kuliah. Gratis ;-D
# kutulis artikel ini atas permintaan dosen KSPK ku untuk menulis artikel yang dapat mencerminkan diri sendiri. Mengapa tema ini yang kupilih? Karena ketika kutanya pada kawan kosan: kata apa yang menggambarkan diriku? Serentaklah dijawab: uang. T-T.
nb: gambar dikopi dari genkupat.blogspot.com
Label: KSPK
written by inten @ 10.37,
2 Comments:
- At 18 Juni 2011 pukul 15.46, kereta_api said...
-
hmm,,,,Intinya sih banyak2 syukur nikmat ya sis...nice...
- At 19 Juni 2011 pukul 17.41, inten said...
-
yup,, ting kyu :)




Posting Komentar