Kreatif A La Bu Mila
bu Mila niih..
Kalimangso. Mahasiswa STAN mana yang tidak kenal daerah ini? Kalimangso ialah contoh nyata pasar persaingan monopolistik dalam teori mikroekonomi. Daerah tepat di belakang kampus STAN ini dijejali usaha fotokopian, warung makan, warung kelontong, dan kos-kosan. Di jalan utamanya saja terdapat sekira lima belas warung kelontong kecil maupun besar, dari yang hanya menjual snack dan makanan hingga yang sudah menyediakan sayur-sayuran, bumbu, juga alat rumah tangga. Jangan tanya berapa banyak warung makannya.
Dari belasan warung kelontong yang ada di Kalimangso ini, ada satu yang paling berkesan di hati. Warung bu Mila namanya. Warungnya memang kecil, hanya berukuran 1x3 meter. Letaknya pun bukan di jalan utama Kalimangso. Kau harus menyusuri gang yang tersembunyi di antara fotokopian Uda dan Lexie untuk menemukannya. Belum lagi warung imut ini diapit empat warung sejenis yang berjarak hanya 15-25 meter darinya. Barang yang dijual pun hampir sama dengan kebanyakan warung lain: snack, roti, minuman, kosmetik, serta kebutuhan rumah tangga.
Cemilan kreatif
Hebatnya, warung ini dapat senantiasa bertahan bahkan memiliki banyak langganan setia. Tiap pagi, para langganan ini mengantri di depan warung untuk membeli nasi kuning buatan bu Mila. Biar tampang masih kucel dan belum gosok gigi, yang penting dapet nasi kuningnya bu Mila! Soalnya kalau sedang ramai, jam 7 pagi nasi kuningnya sudah akan ludes oleh mahasiswa dan warga yang ingin mendapat sarapan enak plus mengenyangkan dengan hanya bermodal tiga sampai empat ribu saja (empat ribu kalau tambah telur). Belum lagi sering dapat bonus gorengan juga :9.
Eits, bukan itu saja yang membuat bu Mila punya banyak langganan setia. Tidak seperti warung lain yang mengandalkan barang/makanan dari produsen semata, bu Mila berinisiatif untuk menjadi produsen juga. Makanan buatannya antara lain:
· Gorengan aneka macam
· Es pisang
· Kentang bumbu
· Singkong bumbu
· Kue sus
· Roti goreng
· Sate donat
· Bubur sumsum
· Es nutrijel
Semua bisa didapat dengan 500 rupiah saja!
Nah, sepanjang pengamatanku, tidak ada warung kelontong lain yang menyediakan ini semua kecuali bu Mila! Sayang sekali aku tidak dapat menyediakan gambar cemilan-cemilan nan menggoda ini. Soalnya pas diwawancara, kebetulan tinggal gorengan dan bubur sumsum yang tersisa. Berikut kudeskripsikan beberapa cemilan tersebut:
Es Pisang
Merupakan pisang kecil yang ditusuk oleh tusukan sate lalu dibekukan di freezer. Ketika ada yang hendak membelinya, pisang yang sudah beku tersebut dikeluarkan dari freezer lalu dicelupkan dalam cairan coklat. Dan hasilnya..taraa.. pisang dingin yang penuh berlumur cokelat (yang ikut beku juga). Cukup dengan lima ratus perak, mulutmu akan bisa merasakan sensasi dingin dan manisnya.
Singkong Bumbu
Kentang yang dipotong kecil-kecil kemudian digoreng lalu diberi bumbu? Sudah biasa. Tetapi singkong yang diberi bumbu? Sudahkah kamu mencobanya? Ternyata ada triknya supaya singkong enak dikunyah dan tak jadi keras saat digoreng. Singkong direbus dulu, lalu digoreng. Singkong yang diangkat dari penggorengan adalah singkong yang sudah retak dan terpisah. Jadi saat pengangkatannya tidak bersamaan. Semua pengetahuan ini didapat bu Mila dari mencoba-coba sendiri lho.
Roti goreng
Berupa roti-roti kecil yang berisi cokelat, stroberi, atau sayuran. Enak,unik, dan (lumayan) mengganjal perut! Hehe.
Sate donat
Donat yang ditaburi meises warna-warni dan ditusuk oleh tusukan sate. Cemilan ini paling disukai anak-anak. Mungkin karena penampakannya yang lain dari donat lain ya.
Proses kreatif
Semua cemilan di atas dibuat dengan proses coba-coba. Untuk mengisi waktu luang saat menjaga warung, bu Mila iseng membuat adonan atau menggoreng-goreng sesuatu. Tak jarang adonan yang dibuatnya gagal atau hasilnya tak sesuai harapan. Pasalnya, bu Mila memang tidak memiliki dasar pengetahuan untuk membuat jajanan-jajanan tersebut. Untuk roti goreng misalnya, perlu lima kali kegagalan untuk menemukan formula yang tepat dalam menghasilkan roti yang renyah dan mengembang. Membuat kulit risoles pun, “sering gagal waktu pertama bikin kulitnya. Harus ga terlalu tebal tapi juga ga terlalu tipis”, begitu tuturnya.
Ide-ide camilan tersebut biasanya didapat dari jajanan pasar. Misalnya roti goreng yang selama ini tidak ada isinya lalu diisi cokelat, sayur, atau stroberi. Seminggu dua kali bu Mila belanja, menjelajah pasar. Bahan-bahan yang dibeli kemudian diolah, sendiri. Untuk berjualan nasi kuning pun, tiap hari bu Mila bangun jam 2 subuh lalu memasak hingga jam 4 subuh, semua dilakukan sendiri.
Semua kerja keras dan inovasi ini terbayar oleh reaksi pembeli. Semua cemilan selalu habis dalam sehari. Bahkan kehadirannya selalu ditunggu dan dicari-cari. Hasil warung ini dapat digunakan untuk uang belanja sehari-hari keluarga bu Mila dan ongkos sekolah dua anaknya yang masih SMA dan (baru lulus) SD.
Pesan beliau selalu, “Jangan takut gagal! Teruslah mencoba!”
Tetaplah kreatif bu Mila! :)
Label: KSPK
written by inten @ 05.18,
0 Comments:



Posting Komentar